11.24.08

TB-Tanoto Kembangkan Gasifikasi Biomassa

Ditulis dalam penelitian pada 4:09 pm oleh Pak Tas

Energi Alternatif
ITB-Tanoto Kembangkan Gasifikasi Biomassa

BANDUNG, KOMPAS–Institut Teknologi Bandung dan Tanoto Foundation menandatangani kerjasama pengembangan teknologi gasifikasi biomassa, Senin (6/8) di Bandung. Fokus penelitian diarahkan pada reduksi dan penyisihan racun tar sebagai efek samping. Hasil ini diharapkan bisa menyempurnakan teknologi itu untuk tahapan pra-produksi massal.

Penandatanganan kerjasama penelitian itu ditandai dengan penganugerahan Tanoto Proffesorhip Award (TPA) kepada guru besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Herri Susanto. Pakar kimia tersebut akan memimpin penelitian yang menelan dana Rp 1,2 miliar ini selama tiga tahun ke depan.

Di Indonesia, teknologi yang memanfaatkan biomassa padat ini bukanlah hal baru. Di negara lain, misalnya China, teknologi ini bahkan sudah diberlakukan tepat guna. Persoalan pokok pemanfaatan teknologi ini adalah munculnya tar (fenol) dan karbon monoksida (CO) sebagai efek samping. Padahal, kedua senyawa ini menimbulkan efek racun berbahaya.

Gasifier (alat gasifikasi) sudah pernah diujicobakan di sejumlah tempat. Misalnya, Desa Jayi, Majalengka (1985-1989) dan PLTD Sekam, Desa Haeurgeulis, Cirebon (2002-2006). ”Namun, alat itu tidak lagi dipakai. Soalnya, karena efek samping itulah. Bahkan, di Cirebon, tar itu sampai mengakibatkan matinya ikan lele. Inilah yang coba kami atasi,” ucapnya.

Selain efek negatif tar, penelitian diarahkan pada modifikasi gasifier agar lebih ekonomis dan mudah digunakan. Sebab, teknologi ini diarahkan untuk tepat guna dengan sasaran sentra produksi pertanian di pedesaan. Nilai investasi per perangkat gasifier saat ini mencapai Rp 80-100 juta. Diharapkan, ke depan, harga ini bisa ditekan sebanyak 25 peren.

Menurut Herri, gasifikasi memiliki banyak keuntungan dibanding proses cairnya (biomassa). Salah satunya, menghasilkan energi listrik disamping bahan bakar pastinya. Dari hasil ujicoba di PLTD-Sekam, diperoleh kajian penghematan biaya senilai Rp 6,4 juta per bulan jika mensubtitusi diesel dengan teknologi ini. Namun, syaratnya, produksi listrik minimal harus 75 kW yang dijalankan 8 jam per hari.

Sampah kota

Hal lain yang menguntungkan, teknologi gasifikasi ini kompatibel hampir dengan seluruh jenis pirolisa biomassa padat. Mulai limbah kayu, bongkol jagung, batok kelapa,  sekam padi, batok sawit, kulit kacang, serbuk gergaji, sampai sampah kota. Jadi, sejalan dengan konsep waste to energy.

”Dari sekian banyak bahan, cita-cita kami pemanfaatan jenis ke-4, fast growing energy atau kebon energi. Ini memanfaatkan tanaman tumpang sari semacam lamtoro-gung, turi, dan lain-lain. Sinergi dengan peternakan,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Chairman Tanoto Foundation Ibrahim Hasan mengatakan, pemanfaatan biomassa sebagai energi terbarukan di Indonesia harus mulai digalakkan. Selain mencegah dampak pemanasan global, lewat reduksi bahan bakar karbon, ini bisa menghasilkan dampak ganda penggerakkan roda ekonomi di pedesaan.

Tiap 1 kilogram biomassa, secara rata-rata, setara dengan 0,1-0,25 bahan bakar. Dan, 0,3 kW energi listrik. Ia bercita-cita, teknologi ini bisa dikembangkan secara intesif di sebuah desa dengan konsep desa mandiri. ”Apalagi, sumber biomassa ini kan tersebar banyak di tanah air. Kami harapkan, ini bisa menjadi kontribusi nyata,” ucapnya.(jon)

Sumber: Kompas Cybermedia, Senin, 06 Agustus 2007

Profesor ITB Mendapat Dana Penelitian Rp 1,2 Miliar

Ditulis dalam penelitian pada 4:07 pm oleh Pak Tas

Profesor ITB Mendapat Dana Penelitian Rp 1,2 Miliar

Senin, 06 Agustus 2007 | 20:13 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung:Herri Susanto, seorang profesor dari ITB, mendapatkan dana penelitian sebesar Rp 1,2 miliar. “Proposalnya kami pilih dari 19 proposal yang masuk,” ujar Direktur Eksekutif Tanoto Foundation Ratih S.A Loekito di Bandung, dalam acara penyerahan Tanoto Professorship Award secara simbolis di ITB, Senin.

Penelitian Herri berjudul “Penyempurnaan Teknologi Gasifikasi Biomassa Sebagai Sumber Energi Alternatif”. Menurut Herri, penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian dia saat meraih gelar doktor di ITB tentang pengolahan limbah sekam padi dan tongkol jagung menjadi listrik dan panas.

Herri mengatakan, dari 1 ton gabah bisa menghasilkan 600 kilogram beras dan 300 kilogram sekam padi. Sedangkan dari 1 ton bongol jagung, bisa menghasilkan 400 kilogram jagung biji dan 500 kilogram kilogram tongkol jagung.

Dari pengering dan penggilingan gabah sekitar 1 ton per jam, kata Herri, dihasilkan 300 kilogram sekam. Sekam ini, setelah melalui proses kimia dengan temperatur tinggi (gasifikasi), bisa menghasilkan bahan bakar untuk genset atau diesel. “Daya yang dihasilkan setara dengan 40 kilowatt listrik,” katanya.

Menurut Ketua Tanoto Foundation Ibrahim Hasan, proposal penelitian Herri sudah melalui dua tahap seleksi. Tahap pertama, kata Ibrahaim, berupa review secara teknis dari tim di ITB sendiri. “Sedangkan tahap dua ada panel dari Tanoto oleh pihak-pihak di luar ITB,” katanya.

Ibrahim menambahkan, Herri adalah penerima Tanoto Professorship Award yang kedua setelah pihaknya memberikan dukungan dana serupa kepada seorang professor dari Universitas Gajah Mada, Widyastuti awal tahun ini. “Dia melakukan penelitian pada jamur Ganoderma (sejenis jamur yang mengakibatkan akar dan batang tanaman menjadi busuk),” ujarnya.

Menurut Ratih, jika penelitian Herri ini berhasil, diharapkan masyarakat di daerah terpencil yang belum mendapat pasokan listrik bisa mendapat manfaatnya. “Mudah-mudahan kekurangan listrik bisa diatasi,” ujar Ratih. Rana Akbari Fitriawan

Sumber: Tempo Interaktif

Uji Performansi Down Draft Gasifier

Ditulis dalam penelitian pada 4:03 pm oleh Pak Tas

Judul :
Uji Performansi Down Draft Gasifier (Reaktor Gasifikasi) Biomass Tipe Imbert Dengan Gas Cooler Sebagai Salah Satu Unit pemurniannya-Dibawah bimbingan Prof.Dr.1r. Armansyah H. Tambunan, MAgr. dan In Yogi Sirodz Gaos, MT. 2006 (M.06/42)

Peneliti :
Rahmad Jakle. F14102052
Tahun
2006


RINGKASAN
Biomassa sebagai sumber energi di Indonesia umumnya diperoleh dari areal hutan (limbah tebangan, patahan cabang dan ranting), pertanian, perkebunan, dan areal pemukiman. Energi yang tersimpan itu dapat dimanfaatkan dengan proses gasifikasi, dimana bahan biomassa yang berupa kayu (selulosa) dikonversi menjadi gas oleh suatu reaktor gasifikasi (gasifier). Bahan biomassa dapat diubah menjadi sumber energi listrik dengan cara memanfaatkan teknologi gasifikasi.
Dengan semakin meningkatnya kebutuhan energi di Indonesia, khususnya energi listrik maka diperlukan sumber-sumber penghasil energi listrik barn. Dengan adanya sistem pembangkit listrik dengan gasifier biomass yang berbahan umpan kayu, maka bahan biomassa dapat dimanfaatkan sebagai bahan umpan untuk proses-proses yang terjadi pada gasifier, sehingga nantinya dapat diperoleh
sehingga
mampu bakar yang dapat digunakan sebagai bahan bakar motor diesel setelah
digunakan Z~melewati beberapa unit pemumian gas dari gasifier. Adapun unit-unit pemurnian gas itu terdiri dari dug (2) unit separator, satu (1) unit gas filter, satu (1) unit gas cooler, satu (1) unit tangki simpan gas sementara, dan satu (1) unit cyclone. Dengan demikian tenaga dari motor diesel ini dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan generator pembangkit listrik. Jadi bentuk energi akhir adalah berupa listrik yang dapat dipergunakan untuk berbagai penggunaan akhir.
Pada saat gas sampai pada separator, gas akan dipisahkan dari debu/kotoran, kemudian gas filter akan menyaring debu/kotoran yang tidak dapat dipisahkan oleh separator. Setelah itu, untuk menurunkan kadar bahan yang bisa dikondensasi (seperti uap), gas mampu bakar didinginkan pada gas cooler. Pada proses ini juga banyak panas yang dilepas dari gas cooler yang juga bisa digunakan untuk pengeringan bahan-bahan pertanian ataupun bahan umpan sebelum masuk ke dalam gasifier. Rancangan gas cooler disesuaikan dengan penurunan suhu yang dikehendaki. Gas cooler dapat dipasang pada posisi sebelum ataupun sesudah gas filter. Umumnya gas cooler didisain berbentuk berkelok-kelok atau spiral, atau tabung dengan sirip-sirip untuk memperluas permukaan pindah panas Setelah itu gas akan masuk ke dalam tangki simpan gas sementara dimana di tempat ini gas  masih akan terkondensasi dari uap-uap air yang terkandung di dala,-n gas. Bagian yang  terakhir adalah cyclone. Cyclone mempunyai fungsi yang dapat dikatakan hampir sama dengan separator yaitu memisahkan debu/kotoran dan tar dari gas. Setelah melewati unit-unit pemurnian gas tersebut, gas mampu bakar itu akhimya benar-benar dapat digunakan sebagai bahan bakar motor diesel. Dalam hal ini, mutu akhir gas yang dihasilkan sangat tergantung pada kinerja masing-masing komponen sistem gasifier biomass tersebut.
Uji performansi yang dilakukan terhadap sistem gasifikasi ini terbagi ke dalam beberapa tahap, yaitu memasukkan data-data yang dibutuhkan dari beberapa kali pengujian gasifier (suhu-suhu pada keempat zona pada gasifier, hasil analisis gas chromatography dari gas hasil gasifikasi, analisis proksimat dan ultimat dari bahan umpan, parameter-parameter yang diperlukan untuk uji performansi gas cooler, dan beberapa data-data penting lainnya), menyusun dan mengolah data-data tersebut sehingga dapat diperoleh beberapa parameter penting dalam uji performansi dari gasifier ini, seperti besarnya equivalence ratio dari proses gasifikasi, energi pembakaran dari gas hasil gasifikasi, nilai kalor gas (low heating value), energi bahan umpan/ biomassa, efisiensi gasifikasi, dan lain-lain.
Berdasarkan literatur, kisaran suhu pirolisis dalam gasifier adalah antara 250 °C-900 °C, suhu oksidasi ± 1200 °C, suhu reduksi ± 900 °C, dan kisaran suhu pengeringan 100 °C-250 T. Pada pengujian tanggal 17 Oktober 2005, suhu pirolisis berkisar antara 31.8 °C-65.3 T dengan rataan suhunya sebesar 53.27 °C, suhu oksidasi 263 °C-525 T dengan rataan suhunya sebesar 380.02 °C, suhu reduksi 224.5 °C-459.2 T dengan rataan suhunya sebesar 3 )84.5 °C, dan suhu pengeringan 30.5 °C-43.2 T dengan rataan suhunya sebesar 38.25 T. Untuk pengujian tanggal 24 Oktober 2005, suhu pirolisis berkisar antara 30.6 °C-61.9 T dengan rataan suhunya sebesar 48.53 °C, suhu oksidasi 365 °C-452 T dengan rataan suhunya sebesar 412.71 T. suhu reduksi 214.2 °C-359 T dengan rataan suhunya sebesar 329.84 °C, dan suhu pengeringan 28.7 °C-56.7 °C dengan rataan
:D
suhunya sebesar 43.46 T. Jadi pada kedua pengujian awal ini, suhu-suhu dari keempat zona yang ada di dalam gasifier masih agak jauh dari yang seharusnya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor seperti ukuran potonganpotongan kayu yang kurang seragam dan kurang kecil yang nantinya dapat membuat aliran kayu ke dalam bagian tenggorok gasifier menjadi kurang lancar sehingga proses oksidasi menjadi terhambat, bagian tenggorok gasifier yang masih kurang lebar, kadar air kayu yang masih agak tinggi, suplai oksigen yang belum ideal yang masuk ke dalam gasifier dan masih kurang terjangkaunya keempat zona yang terjadi di dalam gasifier oleh alai-alai ukur suhu yang digunakan.
Pada pengujian tanggal 04 Desember 2005, suhu pirolisis berkisar antara 52.0 °C -101.2 °C dengan rataan suhunya sebesar 80.26 °C, suhu 656.3 °C1011.0 T dengan rataan suhunya sebesar 898.50 °C, suhu reduksi 264.6 °C450.9 °C dengan rataan suhunya sebesar 395.42 °C, dan suhu pengeringan 30.5 °C-44.5 OC dengan rataan suhunya sebesar 39.71 °C. Pada pengujian tanggal 11 Desember 2005, suhu pirolisis berkisar antara 83.3 ) °C -131.4 °C dengan rataan suhunya sebesar 97.39 °C, suhu oksidasi 616.0 °C-1038.0 °C dengan rataan suhunya sebesar 898.50 °C, suhu reduksi 264.6 °C-450.9 °C, dan suhu pengeringan 30.5 °C-42.2 T dengan rataan suhunya sebesar 37.39 T. dengan rataan suhunya sebesar 957.62 °C. Jadi pada pengujian tanggal 04 dan 11 Desember 2005 ini, suhu-suhu dari keempat zona yang ada di dalam gasifier sudah lebih mendekati dengan yang seharusnya jika dibandingkan dengan dui kali pengujian sebeluninnya, khususnya suhu pada zona oksidasi. Hal ini disebabkan karena sudah dilakukannya modifikasi-modifikasi terhadap gasifier. Selain itu, bahan-bahan umpan yang akin dimasukkan ke dalam gasifier sebelumnya telah dijemur dulu selama situ hari penuh untuk mengurangi tingkat kadar air pada bahan umpan.
Pada pengujian tanggal 22 April 2006, suhu pirolisis berkisar antara 83 ) °C123.7 °C dengan rataan suhunya sebesar 101.66 °C, suhu oksidasi 402.7 °C1100.0 T dengan rataan suhunya sebesar 815.83 °C, suhu reduksi 65 °C-380.4 T dengan rataan suhunya sebesar 261.51 °C, dan suhu pengeringan 38 °C-66.6 T dengan rataan suhunya sebesar 55.41 T. Untuk pengujian tanggal 08 Juni 2006, suhu pirolisis berkisar antara 91.5 °C-171.2 T dengan rataan suhunya sebesar 133.35 °C, suhu oksidasi 612.9 °C-809.2 OC dengan rataan suhunya sebesar 687.23 °C, suhu reduksi 105.7 °C-303.1 T dengan rataan suhunya sebesar 214.14 °C, dan suhu pengeringan 34.8 °C-75.7 T dengan rataan suhunya sebesar 65.44 °C. Jadi, pada kedua pengujian terakhir ini (sudah menggunakan unit-unit pemurnian lengkap) dapat disimpulkan bahwa suhu-suhu dari zona pengeringan, pirolisis, dan reduksi yang ada di dalam gasifier masih agak jauh dari yang seharusnya. Sedangkan untuk suhu pada zona oksidasi sudah lebih mendekati pada kondisi yang seharusnya (± 1200 °C). ini disebabkan oleh lebih diperlebarnya lubang untuk suplai oksigen dengan tetap memperhatikan kondisi suplai oksigen untuk mengusahakan terjadinya pembakaran tidak sempurna di dalam gasifier untuk mengoptimalkan gas karbon monoksida (CO) yang akan dihasilkan.
Besarnya laju energi pembakaran dari gas hasil gasifikasi, paling besar dihasilkan dari pengujian-pada tanggal 17 Oktober 2005 (56.712 kW) dimana bahan umpan yang digunakan adalah kayu Borneo. Kayu Borneo memang mempunyai nilai kalor, kandungan karbon dan nitrogen yang lebih besar daripada kayu Asem dan kayu Lamtorogung. Besarnya efisiensi gasifikasi pada pengujian tanggal 17 Oktober 2005 (55.70 %) juga lebih besar daripada pengujian tanggal 24 Oktober 2005 (42.26 %).
Untuk gasifikasi dibutuhkan nilai equivalence ratio (0) serendah mungkin, patokan yang Bering digunakan untuk memperoleh nilai kalor gas maksimum adalah 0 = 0.25, sedangkan pada pengujian tanggal 17 Oktober 2005 diperoleh 0 = 0.780 dan pada pengujian tanggal 24 Oktober 2005 diperoleh 0 = 0.837. Hal ini menunjukkan bahwa masih perlu dilakukan pengurangan suplai oksigen ke dalam gasifier untuk lebih mengoptimalkan terjadinya proses pembakaran tidak sempurna di dalam gasifier sampai nilai equivalence ratio-nya mendekati 0 = 0.25 agar memperoleh nilai kalor gas maksimum. Pengurangan suplai oksigen ini dapat dilakukan dengan memperkeeil lubang pernasukan udara pada gasifier.
Untuk uji performansi gas cooler, setelah dilakukan perhitungan dari parameter-parameter yang diperlukan, maka diperoleh laju perpindahan pangs sebesar 29 304 kkal/jam, penururian tekanan dari gas yang masuk ke gas cooler 28.4 Pa, dan efisiensi gas cooler sebesar 17.2 %. Besarnya penurunan tekanan gas yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk memperoleh spesifikasi pompa hisap gas yang digunakan dalam sistem gasifikasi. Dalam penelitian ini juga dilakukan pengukuran penurunan tekanan dari gas yang masuk ke gas cooler dengan manometer yang bertujuan untuk melakukan validasi dengan besarnya penurunan tekanan gas dari hasil perhitungan untuk uji performansi gas cooler. Untuk nilai penurunan tekanan yang diperoleh dengan menggunakan Manometer II dari pengujian pada tanggal 08 Juni 2006 sebesar 29.4 Pa. Jadi dari perhitungan penurunan tekanan dari gas yang masuk ke gas cooler, nilainya tidak berbeda jauh dengan hasil pengukuran dengan Manometer 11 pada tanggal 08 Juni 2006.
Sumber: Departemen Teknik Pertanian IPB

Memilih Sekam dan Tongkol Jagung

Ditulis dalam penelitian pada 4:01 pm oleh Pak Tas

Energi Alternatif
Memilih Sekam dan Tongkol Jagung

BANDUNG, KCM – Sebagai bangsa yang mayoritas makan nasi dan jagung, sudah selayaknya bangsa Indonesia ingat limbah padat pertanian yang tidak dimanfaatkan lagi atau biomassa dari padi yakni sekam dan limbah jagung berupa tongkol.

Pasalnya, mengacu pada isu pemanasan global, sekam padi dan tongkol jagung boleh jadi bakal dituding sebagai biang keladi melambungnya jumlah karbondioksida di udara jika upaya lanjutan yang dilakukan melulu dengan cara pembakaran sebagai tahap akhir pemusnahan. Ujung-ujungnya, bila kita tak pernah berusaha keras mencari manfaat lain kedua biomassa itu, peningkatan suhu berikut terlampauinya batas normal tinggi muka air laut terhadap daratan bakal gampang terealisasi di Tanah Air. Tentu, kita tidak mau Ibu Kota Jakarta segera menjadi “kota” bawah laut bukan?

Mari sejenak berhitung. Pada 2006 lalu, Indonesia mampu menghasilkan 54,66 juta ton Gabah Kering Giling (GKG). Dari jumlah itu, menggunakan  perhitungan rendemen 65 persen, sebanyak 35,53 juta ton adalah beras.  Jadi, sisa GKG sebanyak 19, 13 ton adalah sekam.

Lalu, jagung. Seturut catatan tahun lalu, dunia berhasil memanen 680  juta ton jagung. Di Indonesia, lebih dari 28 persen yakni 800 ribu  hektare dari 3 juta lahan sudah ditanami bibit jagung hibrida.

Nah, bisa dibayangkan, kalau seluruh limbah padi dan jagung itu  dibakar, berapa banyak sumbangan gas asam arang asal Negeri Zamrud  Khatulistiwa tercinta? “Padahal, dari penelitian saya, sekam dan  tongkol jagung bisa menjadi pilihan sumber energi alternatif, tidak  cuma dibakar,” kata Prof. Dr. Herri Susanto, peraih Tanoto Foundation  Professorship Award lewat judul penelitiannya bertajuk Penyempurnaan  Teknologi Gasifikasi Biomassa sebagai Sumber Energi Alternatif yang  Ramah Lingkungan, Senin (6/8) lalu.

Jadilah, penelitian tersebut disambut baik sebagai riset yang kelak hasilnya berdampak langsung bagi banyak masyarakat sekaligus  pelestarian lingungan, menyisihkan sepuluh proposal lainnya yang sampai  ke meja tim penilai lembaga nirlaba milik konglomerat Sukanto Tanoto  itu.  Alhasil, Prof. Dr. Herri Susanto pun memperoleh penghargaan  berupa donasi Rp1,2 miliar. “Dana tersebut untuk penelitian dalam  jangka waktu tiga tahun,” kata Direktur Eksekutif Tanoto Foundation  Ibrahim Hasan dalam kesempatan pemberian penghargaan itu.

Lebih lanjut, Prof. Herri, begitu sapaan akrab Guru Besar Madya  Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) kelahiran  Madiun 27 April 1953 itu, memaparkan, penelitian yang hasil akhirnya  akan dapat memacu produktivitas pertanian mulai dari suplai listrik  pedesaan hingga pengolahan hasil itu memang belum rampung. Beserta tim  pendukung, dirinya masih berupaya mengurai problem banyaknya arang  terbuang, kandungan tar yang masih tinggi hingga masih adanya senyawa  turunan fenol yang beracun pada air limbah bekas pembersih pada proses  gasifikasi.

Sebelumnya, pada Maret 2007, Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas  Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Prof.Dr.Ir. SM Widyastuti, M.Sc. yang  melakukan penelitian pada jamur ganoderma menerima penghargaan  dimaksud.


Penulis: primus

Sumber: Kompas Cybermedia, Kamis, 09 Agustus 2007

11.07.08

Pembangkit dari Jerami

Ditulis dalam energi sampah tagged , , pada 5:31 am oleh Pak Tas

Krisis Listrik Ancam Hambat Pilkada di Sulsel

Sabtu, 25 Oktober 2008 | 01:08 WIB

Medan, Kompas – Perusahaan asal Rusia, JSC PromSviaz Automatika, akan membangun pembangkit listrik menggunakan limbah tanaman padi, jerami, dan sekam di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Pembangkit memiliki kapasitas 10 megawatt hingga 20 megawatt tergantung ketersediaan jerami dan sekam.

Baca entri selengkapnya »

10.31.08

Tabanan Sulap Limbah Padi jadi Listrik

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , pada 9:54 am oleh Pak Tas

Jumat, 18-April-2008

Denpasar, Kominfo Newsroom – Wakil Walikota Denpasar IB Rai Darmawijaya Mantra. SE. Msi mendukung pengolahan limbah padi seperti sekam dan jerami untuk diolah menjadi tenaga (energi) listrik, yang bermanfaat serta memberi nilai ekonomis bagi peningkatan kesejahtaeraan ekonomi petani.

Menurut nya, selama ini limbah padi seperti sekam dan jerami kurang dimanfaatkan bahkan sering dibakar begitu saja seusai panen.

Baca entri selengkapnya »

Pembangkit listrik dengan menggunakan limbah yang berasal dari peternakan ayam di Belanda

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , pada 9:43 am oleh Pak Tas

Eco Factor: Using greenhouse-gas-emitting bio-waste to produce energy that powers 90,000 homes.

The Netherlands is going to produce power from chicken waste and that too in a scale that would be sufficient to power over 90,000 homes! That pretty much sums up the magnitude of this huge investment the country is making in green energy. Chicken waste has been a problem that has been plaguing many of the North European countries for a long time, and the new project will help the Netherlands turn one-third of the nation’s chicken poop into energy. Built by Dutch firm Delta, the €150 million project is located in Moerdijk and would convert 440,000 tons of chicken waste into power each year.

The biomass plant not only produces energy but avoids the addition of greenhouse gases, which are otherwise liberated when the chicken waste is allowed to decompose in the open. This in effect makes the plant carbon neutral, and in reality helps the nation cut down on its carbon footprint. The leftover ash also would be used as manure.

Sumber:

http://www.otakku.com/index.php/2008/09/09/dutch-to-power-90000-homes-with-chicken-poop/

http://www.ecofriend.org/entry/eco-energy-dutch-to-power-90000-homes-with-chicken-poop/

Listrik Sampah

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , , pada 9:27 am oleh Pak Tas

Pikiran Rakyat, 31 Juli 2006

PLTS ini selain bisa memasok kebutuhan listrik Jawa Bali yang kini mulai kritis, juga akan membebaskan Kota Bandung dari “darurat sampah” yang pernah menyesakkan napas warganya.

SAMPAH yang sempat menjadi persoalan yang cukup merepotkan bagi pemerintah maupun masyarakat Kota Bandung, sudah mulai digarap secara serius. Selain Bapenas dan Meneg Lingkungan Hidup turun tangan ikut membantu memecahkan persoalan sampah, kini perguruan tinggi ternama di Bandung, (ITB) juga sudah menyatakan minatnya membantu memecahkan persoalan sampah Kota Bandung, dengan akan membangunnya Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS).

Baca entri selengkapnya »

Listrik 12 Megawatt dari Sampah

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , pada 8:58 am oleh Pak Tas

Sabtu, 9 Agustus 2008

Inovasi pengelolaan sampah terus dilakukan dinas kebersihan dan pertamanan (DKP) pemkot. Yang terbaru, DKP bakal menggandeng investor untuk membuat pembangkit listrik tenaga sampah di LPA (lokasi pembuangan akhir) Benowo.

Baca entri selengkapnya »

Setrum dari Sampah

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , pada 8:52 am oleh Pak Tas

21 Juli 2008

SETIAP hari, jutaan ton gas metana terbang ke angkasa dari sekitar 1.200 pusat pengolahan sampah yang tidak membakarnya. Saat ini gundukan barang tak berguna itu berperan menyumbang pelepasan gas metana terbesar ketiga atau sekitar 13 persen. Ini artinya, gas perusak ozon yang tidak diolah itu setara dengan 818 juta ton karbon dioksida.

Sebenarnya, metana bisa langsung diolah menjadi listrik setelah melalui proses ekstraksi. Menurut perhitungan perusahaan yang banyak bergerak di bidang energi alternatif, Cogeneration & On-Site Power Production, Inggris, metana dari 11 ribu meter kubik sampah bisa menghasilkan 0,8 megawatt listrik.

Metode ini yang dipakai pembangkit listrik di Mallard Ridge, Wisconsin, Amerika Serikat, sejak 1996. Sebanyak 70 ribu meter kubik gas metana dari tempat pengolahan seluas 34 hektare itu bisa menghasilkan 850 kilowatt setiap hari. Artinya, minyak yang dihemat sampai 22 ribu barel per hari.

Beda lagi dengan yang dilakukan pemerintah Isle of Wight, pulau kecil di selatan Inggris. Kawasan wisata ini sempat kebingungan mengelola 30 ribu ton sampah setiap tahun. Akhirnya, dengan modal US$ 16 juta, mereka membangun pembangkit listrik tenaga sampah.

Sampah dibakar dalam tanur dengan panas sekitar seribu derajat Celsius. Gas yang dihasilkan kemudian menjadi sumber energi. Listrik 2,3 megawatt yang diproduksi cukup untuk keperluan 2.000 rumah di pulau itu.

Inggris sendiri termasuk negara yang kesulitan mengurus sampah. Negeri ini dalam setahun menghasilkan 16,9 juta ton sampah, jauh di atas rata-rata negara Eropa. Sejauh ini, sampah dibakar dengan insinerator tapi dikritik karena menimbulkan polusi. (Sumber: Time, Parnelbiogas)

Sumber:

http://ampl.or.id/detail/detail01.php?tp=artikel&jns=wawasan&kode=2013

Emas Hijau Bernama Sampah

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , , , , , , , pada 8:46 am oleh Pak Tas

(Gatra, 10 September 2008)

Potensi gas metana hasil pembakaran sampah Indonesia mencapai 404 juta meter kubik per tahun. Setara dengan Rp 118 milyar per tahun. Pembangkit listrik tenaga sampah mulai berproduksi. Ke depan, sampah pun diharapkan dapat mengatasi krisis listrik.

Bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, sampah kini bukan lagi barang bermasalah dan menjijikkan. Mereka justru membutuhkan lebih banyak sampah. Betapa tidak, dari gunung sampah, Pemkot Bekasi justru mendapat tumpukan laba mencapai jutaan euro. Bagaimana bisa?

Baca entri selengkapnya »

PLN akan membeli PLTS buatan ITB

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , , , pada 8:37 am oleh Pak Tas

28 Juli 2006

Perusahaan Listrik Negara (PLN) siap membeli listrik hasil pengolahan sampah yang akan dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk langkah awal, Rektor ITB, Djoko Santoso dan Plt. Direktur Utama PLN, Djuanda Nugraha Ibrahim, sepakat untuk bekerja sama dalam hal kajian kelayakan dan desain pembangkit listrik dengan bahan bakar sampah.

Baca entri selengkapnya »

Belajar Pengembangan Biofuel dari Brasil

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , pada 7:14 am oleh Pak Tas

KORAN TEMPO

Rubrik Opini

Edisi 2006-03-14

Back

Belajar Pengembangan Biofuel dari Brasil

Khudori

• peminat masalah sosial-ekonomi pertanian

Bahan bakar minyak adalah urat nadi kehidupan–seperti darah yang mengalirkan oksigen ke dalam tubuh. Kehidupan bisa macet tanpa bahan bakar. Sayang, cadangannya yang menipis, biaya eksplorasi yang kian mahal, serta dampak lingkungan dan geopolitik di negara produsen minyak yang selalu memanas membuat era BBM murah berakhir. Ini merupakan kabar buruk bagi Indonesia sebagai negara nett importer.

Baca entri selengkapnya »

Workshop Kelayakan Sampah Kota Bandung sebagai Bahan Bakar Pembangkit Listrik

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , pada 5:07 am oleh Pak Tas

Rabu, 7 – Februari – 2007, 19:26:55

Hari Rabu, 7 Februari 2007 tiba-tiba kampus ITB diwarnai oleh bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam coklat muda khas pegawai Pemerintah Kota (Pemkot). Rombongan Pemkot ini rupanya hadir untuk mengikuti “Workshop Kelayakan Sampah Kota Bandung sebagai Bahan Bakar Pembangkit Listrik” di ruang Auditorium Campus Center Timur pukul 09.00-13.00 WIB. Workshop ini diselenggarakan oleh Pusat Rekayasa Industri LPPM ITB dan Pemerintah Kota Bandung.

Baca entri selengkapnya »

Jurus Bali Hemat Listrik, Sampah Pun Bisa Hasilkan Setrum

Ditulis dalam energi sampah tagged , , , , , , pada 5:02 am oleh Pak Tas

Jurus Bali Hemat Listrik, Sampah Pun Bisa Hasilkan Setrum

Selasa, 24 Juni 2008 15:38

Pulau Dewata membutuhkan pasokan listrik yang cukup dan stabil untuk melayani tamu-tamu wisatawan dari mancanegara. Minimnya pasokan listrik dari pembangkit yang ada, membuat masyarakat Baliberkreasi menghasilkan energi setrum dari sampah.

Indonesia krisis listrik, itu semua orang yang membutuhkan sumber energi setrum itu sudah mahfum. Minimnya investasi sebagai buah dari krisis moneter membuat munculnya pembangkit listrik baru amat terbatas. Malah boleh dibilang, dalam 10 tahun terakhir, nyaris tak ada pembangkit listrik baru. Padahal, pembangkit listrik yang lama mulai ngos-ngosan menghasilkan listrik lantaran mulai menua.

Baca entri selengkapnya »

Halaman berikutnya