Oktober 26, 2008

Mengolah Limbah Menjadi Biomassa

Posted in energi terbarukan tagged , , , at 7:08 am oleh Pak Tas

Oleh

Merry Magdalena

JAKARTA – Jangan sepelekan limbah perkebunan, sebab limbah yang seolah tak terpakai itu bisa diubah menjadi sumber energi. Biomassa, begitu limbah tersebut dijuluki, kelak menjadi energi alternatif yang menjanjikan.

Di masa depan, bahan bakar fosil bukan lagi tren. Selain tidak ramah lingkungan, memang persediaannya mulai menipis. Ilmuwan sudah melirik sejumlah bahan bakar alternatif lain yang lebih ramah lingkungan dan sesuai dengan kebutuhan.

Di samping bioethanol, bio-oil dan biodiesel, ada yang namanya biomassa. Bahan bakar ini berasal dari tetumbuhan. Bedanya, biomassa justru didapat dari industri kehutanan, perkebunan, juga segala jenis industri lain yang melibatkan bahan kayu.

“Saat ini program pengembangan biofuel dan biomassa di Indonesia yang dicanangkan pemerintah banyak mendapat dukungan dan tanggapan positif baik dari masyarakat maupun sektor swasta,” ungkap Said D Jenie, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), kepada pers di Jakarta, akhir pekan silam.

Tandan kelapa sawit, cangkang kelapa sawit, juga limbah batang padi serta limbah tebu dari pabrik gula merupakan contoh limbah yang dapat diolah menjadi biomassa. Biomassa tersebut seringkali digunakan pada tungku konvensional sebagai sumber energi pada pabrik Crude Palm Oil (CPO), pengulit padi dan pabrik gula.

Wahono, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri BPPT, menjelaskan dari 52 juta ton padi yang dipanen, 20 persennya adalah limbah yang terbuang begitu saja.

Idealnya, dalam pengolahan biofuel sekaligus juga dilakukan pengolahan biomassa. Misalnya dalam mengubah minyak sawit menjadi energi, limbah sawitnya juga didaur ulang menjadi energi.

Sesungguhnya biomassa sudah berjalan walau terbatas untuk kebutuhan internal industri tertentu. Dari potensi biomassa di Indonesia yang dapat menghasilkan energi sebesar 50 giga watt, baru 0,3 saja yang dimanfaatkan.

Kerja Sama

Studi ihwal biomassa sudah banyak dilakukan negara maju seperti Jepang, Jerman, Inggris, dan sebagainya. Hanya sejauh ini belum satupun yang menggunakannya secara komersial. Sejumlah proyek biomassa masih dijadikan percontohan.

“Kami melakukan studi biomassa dan bioethanol. Secara regulasi kami sudah mensubtitusi bahan bakar fosil dengan bioethnol hingga 3 persen dan biodiesel sampai 5 persen. Masalahnya kami tidak memiliki sumber biofuel yang cukup,”ungkap Kinya Sakanashi, Direktur Biomass Technology Research Center National Institute for Advanced Industrial Science and Technology (AIST) Jepang .

Karena kelangkaan sumber bioethanol yang tak lain adalah singkong dan tebu, AIST menggalang kerja sama dengan Indonesia melalui BPPT di bidang studi pengolahan biomassa. Kerja sama ini berwujud pengembangan dan perekayasaan teknologi, termasuk peng-operasian pilot plant, maupun pembangkit listrik berbahan baku biomassa.

Biomassa merupakan bahan hayati yang biasanya dianggap sebagai sampah dan sering dimusnahkan dengan cara dibakar. Biomassa tersebut dapat diolah menjadi bioarang, yang merupakan bahan bakar yang memiliki nilai kalor yang cukup tinggi dan dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. n

Sumber:
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0612/11/ipt01.html

About these ads

3 Komentar »

  1. Cakra said,

    Saya rencana ingin membuat pradesain pabrik sebagai tugas akhir mendapatkan gelar sarjana,
    Rencananya saya ingin membuat judul tentang pembuatan pabrik syrup glucose, untuk bahan baku saya inginnya dari limbah biomass yang kandungan selulosanya tinggi agar bisa dikonversi ke glukosa, klo boleh nanya kira-kira limbah biomass apa yang sekiranya mempunyai kandungan selulosa yang tinggi?
    trima kasih atas infonya

  2. yuliansyah arbama putra said,

    saya sedang menyusun tugas akhir mengenai pemanfaatan gasifikasi pada pabrik kelapa sawit, saya ingin tahu proses kerjanya

  3. Buntu Sijagat said,

    Pertanyaan:
    (1) Dari potensi produk biomassa yg diperkirakan mencapai 50 giga watt, dan 0,3 GW, tersebut yang telah dimanfaatkan, kira-kira kapan direalisasikan lebih lanjut?
    (2) Bagaimana komitmen pemerintah u/ merealisasikannya, termasuk peran pelaku lembaga litbang. kalau masih berkotak-katik di skala laboratorium, kapan ya masyarakat dapat berkontribusi.
    (3) ARN 2009 – 2014, apakah yakin defusi teknologi tersebut mampu menjawab, karena, pelaksana lembaga penelitian yang ada masih sulit mensinerjikan dan memiliki kecenderungan mempertahankan kelembagaannya, termasuk insentif penelitian, kayaknya masih terbatas berbagi-bagi pembiayaan belum mensinerjikan kelembagaan. atau SDM yang tersebesar di lembaga litbang di tarik saja ke satu organisasi baru yang lebih konsentrasi dan fokus pada pemenuhan permasalahannya.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: