April 12, 2007

Limbah Rumah Tangga Dominan Cemari Kota

Posted in kliping tagged , , pada 10:21 am oleh Pak Tas

Pikiran Rakyat, Rabu, 12 Januari 2005

Limbah Rumah Tangga Dominan Cemari Kota
Kontribusinya Mencapai 80 Persen

BANDUNG, (PR).-

Padatnya penduduk kota-kota di Jabar khususnya Kota Bandung, telah memunculkan masalah lingkungan yang cukup mengkhawatirkan akibat pembuangan limbah, mulai dari limbah industri (pabrik) hingga limbah rumah tangga. Bahkan, kini limbah yang berasal dari rumah tangga khususnya di kota-kota besar di Jabar, sudah mencapai 80%.


Demikian ditegaskan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jabar Ade Suhanda, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/1). “Dari hasil penelitian, kontribusi limbah domestik (rumah tangga) semakin membesar di Jabar, yakni sudah mencapai 80%. Di Kota Bandung sendiri, kemungkinan angkanya bisa lebih besar lagi, mengingat penduduk Bandung paling padat,” ungkapnya.

Menurut Ade, limbah domestik yang paling dominan adalah jenis organik, seperti kotoran manusia dan hewan. Di kota besar seperti Bandung ini, tinja terkadang dibuang seenaknya atau tidak pada tempatnya seperti ke sungai. Akibatnya sungai menjadi tercemar, sehingga berpotensi menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit.

Sedangkan limbah anorganik berupa plastik dan bahan-bahan kimia, yang diakibatkan oleh penggunaan deterjen, sampo dan penggunaan bahan kimia lainnya. “Umumnya limbah domestik tersebut dibuang secara sembarangan dan tidak terkontrol, sehingga terakumulasi dan mengakibatkan terjadinya masalah pencemaran lingkungan,” ungkapnya.

Untuk itu, ia mengharapkan agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. Kemudian kalau sampah tersebut masih mempunyai nilai ekonomis, bisa disimpan untuk didaur ulang, seperti plastik dan kertas.

Memang, katanya, masalah limbah domestik tersebut sangat erat hubungannya dengan kultur masyarakat. Mereka seakan sudah terbiasa membuang sampah dan limbah secara sembarangan, sehingga untuk mengubah kebiasaan itu dirasakan sulit. Meski begitu, pihak BPLHD sendiri bekerja sama dengan pihak lain, berencana untuk bisa mengubah kultur tersebut. “Sepanjang kultur itu tidak bisa berubah, penanganan sampah domestik tersebut akan tetap sulit,” katanya.

Limbah medis

Di samping limbah domestik, menurut Ade, yang menjadi kendala adalah limbah medis. Msialnya bahan-bahan bekas operasi, jarum suntik dan obat-obatan serta bahan kimia lainnya. Limbah medis menjadi kendala, mengingat pihak rumah sakit membuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).

Padahal, tandas Ade, limbah medis tidak boleh dibuang ke TPA karena berbahaya, seharusnya limbah tersebut dibuang ke tempat khusus lalu dibakar. “Makanya hasil penelitian menunjukkan, untuk Kota Bandung diharuskan ada tempat pembuangan khusus limbah domestik bagi seluruh rumah sakit. Limbah itu bisa dikelola oleh pihak swasta yang profesional,” ungkapnya.

Ade mengungkapkan, untuk menanggulangi sampah domestik pihaknya tengah mencari teknologi tepat guna yang mengolah sampah, guna memberikan nilai ekonomis. Misalnya, untuk tenaga pembangkit listrik dari energi bio massa yang dihasilkan dari sampah.

“Memang teknologi ini belum digunakan di kita, namun telah dijajaki bahkan beberapa negara yang tengah menggunakan teknologi tersebut seperti Jepang dan Rusia, telah menawarkan untuk bekerja sama. Mudah-mudahan, dalam waktu dekat ini bisa direalisasikan,” tambahnya. (A-113)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0105/12/0302.htm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: