Oktober 31, 2008

Belajar Pengembangan Biofuel dari Brasil

Posted in energi sampah tagged , , , , , , pada 7:14 am oleh Pak Tas

KORAN TEMPO; Rubrik Opini; Edisi 2006-03-14

Khudori • peminat masalah sosial-ekonomi pertanian

Bahan bakar minyak adalah urat nadi kehidupan–seperti darah yang mengalirkan oksigen ke dalam tubuh. Kehidupan bisa macet tanpa bahan bakar. Sayang, cadangannya yang menipis, biaya eksplorasi yang kian mahal, serta dampak lingkungan dan geopolitik di negara produsen minyak yang selalu memanas membuat era BBM murah berakhir. Ini merupakan kabar buruk bagi Indonesia sebagai negara nett importer.

Tak ingin situasinya kian buruk, pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla bertekad mencari solusi tekno-sosio-ekonomi. Yang didorong adalah pengembangan bahan bakar alternatif berbahan baku nabati (biofuel). Itu ditunjukkan dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain, 25 Januari 2006.

Tekad ini perlu didukung karena kita memiliki sumber daya dan potensi yang sangat besar untuk mewujudkannya. Namun, sesungguhnya perjalanan masih amat panjang dan jauh. Karena banyak integrasi dan konsolidasi program, di tingkat operasional hal ini masih terkesan latah tanpa analisis kritis yang masuk akal. Tindak lanjut yang lebih detail, konsisten, dan berkesinambungan perlu segera disusun. Ini penting karena pencarian energi alternatif berbasis etanol sebetulnya telah selesai pada 1980-an. Program berhenti karena harga BBM rendah. Jadi kata kuncinya: harus ada konsistensi.

Brasil, negeri samba dan surga sepak bola, berhasil mengembangkan biofuel karena ada konsistensi. Pemakaian biofuel di Brasil dimulai pada 1973, saat terjadi krisis bahan bakar. Saat itu, 80 persen kebutuhan BBM diimpor. Pemerintah Brasil pun menetapkan Program Nasional Alkohol dan memberlakukan pemakaian bahan bakar alternatif. Pemerintah memberikan potongan pajak kepada produsen dan pengguna mobil etanol.

Brasil memilih biofuel dari singkong, jarak pagar, dan tebu. Dari ketiganya, yang paling maju adalah alkohol yang disuling dari tebu. Industri alkohol, selain pengolahan gula, bermunculan. Saat ini, jumlah kedua industri ini 307 unit. Lapangan kerja baru tumbuh di daerah perkebunan tebu. Menurut catatan Uniao de Agroindustria Canavieira de Sao Paulo (Asosiasi Agroindustri Tebu Sao Paulo), agrobisnis tebu menyerap satu juta tenaga kerja. Dengan luas 5,44 juta hektare (2004), lahan tebu Brasil terluas di dunia. Separuh dari produksi lahan itu (344 juta metrik ton) disulap jadi etanol. Setiap tahun luas lahan tebu tumbuh 6 persen, didorong oleh peningkatan permintaan dari industri pengolahan gula dan alkohol.

Seperti di Indonesia, agrobisnis tebu di Brasil berciri labour-intensive. Bagi warga Brasil, industri tebu menjadi sumber kesejahteraan, bahkan bagi pekerja berkualifikasi terendah sekalipun. Ini tidak ditemukan di industri lain. Industri berbasis tebu hanya membutuhkan biaya US$ 10 untuk menciptakan satu kesempatan kerja, lebih rendah ketimbang industri petrokimia (US$ 200), industri baja (US$ 145), industri otomotif (US$ 91), industri pengolahan bahan baku (US$ 70), dan industri produk konsumsi (US$ 44). Ini yang membuat Brasil jadi produsen etanol paling efisien dan termurah di dunia: biaya produksinya (sebelum pajak) US$ 17,5 per barel atau sekitar Rp 1.080 per liter. Sedangkan produsen etanol dari bahan baku jagung Amerika Utara menghabiskan biaya produksi US$ 44,1 per barel atau sekitar Rp 2.718 per liter.

Keberhasilan ini ditunjang kenyataan bahwa Brasil merupakan produsen tebu dan eksportir gula terbesar dunia. Pada 2003/2004, Brasil menghasilkan gula 20,4 juta ton dan etanol 14 miliar liter. Dari jumlah itu, 9,5 juta ton gula dan 12,7 miliar liter etanol dipakai untuk konsumsi domestik, sementara sisanya diekspor. Pada 2005, konsumsi biofuel Brasil mencapai 13 miliar liter. Jumlah itu berarti mengurangi 40 persen dari total kebutuhan bensin. Produksi etanol tumbuh 8,9 persen per tahun. Permintaan etanol terus meningkat karena harganya dipatok lebih rendah ketimbang harga bahan bakar fosil yang masih diimpor.

Biodiesel (dari singkong dan jarak pagar) juga berkembang pesat di Brasil. Jarak pagar ditanam di jutaan hektare lahan. Ini tak lepas dari langkah Liuz Inacio Lula da Silva. Begitu berkuasa, Presiden Brasil itu menjadikan biodiesel sebagai prioritas utama, dengan meluncurkan A Biodiesel Programme. Pada 2003, Brasil mengkonsumsi solar 38 miliar liter–6 miliar liternya berasal dari pasar impor. Dengan beragamnya bahan baku biodiesel, Brasil diperkirakan berpotensi menjadi pemain terkemuka biodiesel dunia.

Tidak seperti di Indonesia yang jadi sampah, ampas tebu di Brasil adalah berkah. Ampas ini dibakar untuk menghasilkan panas guna menjalankan penyaring dan mesin lain di pabrik. Untuk produksi, pabrik hanya membutuhkan setrum 60 megawatt dari 160 MW yang diproduksi. Akhirnya, pabrik etanol mendapat pemasukan ekstra dari penjualan listrik. Karena harganya cukup bersaing (US$ 30-40 per MWh), sumber listrik baru itu akan menjadi idola masa depan. Jika ampas diolah dengan teknologi canggih, bisa menghasilkan setrum 9.000 MW, 15 kali produksi PLTN di sana. Kekurangan setrum menjadi cerita usang. Akhirnya, industriwan di Brasil berbondong-bondong menginvestasikan duitnya untuk memajukan teknologi itu. Ongkos produksi etanol (US$ 0,63 per galon) pun jadi lebih murah dibanding bensin (US$ 1,05).

Permintaan terus tumbuh karena makin banyak mobil berbahan bakar etanol berseliweran di Brasil, dari mobil keluaran Fiat, General Motors, Ford, sampai Volkswagen. Hanya lima tahun setelah Program Nasional Alkohol dimulai, 90 persen mobil di sana telah menjadi mobil alkohol. Hebatnya lagi, industri alkohol mampu “memaksa” industri lain, terutama otomotif, menyesuaikan diri. Belakangan, pesawat terbang ringan ikut “minum” bensin tanam. Ipanema, pesawat berkursi tunggal EMB 202, telah mendapat lampu hijau untuk mengudara. Pesawat ini bakal dipakai untuk menyemprot lahan pertanian. Bakal menyusul 70 pesawat serupa.

Keberhasilan Brasil dalam mengembangkan energi terbarukan setidaknya disebabkan oleh empat hal. Pertama, soal kelembagaan. Perumusan kebijakan umum industri berbasis tebu berada di bawah wewenang Badan Pengembangan Gula dan Alkohol, sebuah badan di bawah Kementerian Pertanian. Badan ini bertugas memformulasi kebijakan sektor gula dan alkohol (dengan mengembangkan teknologi sosial dan perdagangan) untuk menciptakan produk yang berkualitas dan kompetitif. Kedua, mengoptimalkan pasar domestik. Tiap tahun dikeluarkan keputusan presiden untuk menetapkan range kadar alkohol yang dicampur dalam bensin yang dijual. Dengan cara ini, konsumsi alkohol domestik bisa digenjot. Produksi gula versus alkohol ini menjadi strategi Brasil untuk keluar dari jerat pasar gula dunia yang distortif.

Ketiga, dukungan finansial. Pemerintah menyediakan kredit berbunga rendah (11-12 persen, sementara bunga pasar 26 persen) kepada pengusaha dan petani yang mengembangkan energi terbarukan. Keempat, dukungan lembaga riset dan pengembangan. Di bawah The Brazilian Agriculture Research Corporation, sebuah badan di bawah Departemen Pertanian, dilakukan berbagai penelitian dan pengembangan bidang bioteknologi dengan orientasi pada terciptanya proses produksi agrobisnis yang modern, efisien, dan kompetitif. Dari empat faktor itu, di Indonesia baru ada dua: pasar domestik yang besar dan lembaga riset (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, perguruan tinggi, dan lain-lain). Sementara terhadap kelembagaan dan dukungan finansial, perlu dilakukan rekayasa. Kedua faktor ini termasuk paling krusial di Indonesia.

Bukan rahasia lagi, di Indonesia, koordinasi tidak jalan. Meskipun sudah ada otoritas tertinggi, implementasi di lapangan bisa mandek. Mindset perbankan selama bertahun-tahun juga mendiskriminasi sektor agro dengan cap unbankable. Tak ada yang meragukan bahwa Indonesia punya potensi energi terbarukan yang luar biasa: panas bumi, energi laut, matahari, biomassa, dan lain-lain. Namun, tanpa menyelesaikan dua faktor kritikal di atas, mustahil pengembangan energi terbarukan akan berhasil.

Back

© Copyright KORANTEMPO.COM 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: